Selasa, 03 Maret 2015

Laporan Pembuatan Tape Metode Fermentasi



LAPORAN
PEMBUATAN TAPE METODE FERMENTASI













 



        


NAMA                    : TENTREM HATINAH
KELAS                    : IX-I
NOMOR ABSEN       : 27

DINAS PEMERINTAH KABUPATEN MALANG
Lambang_kabupaten_malang.gifPENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SMP NEGERI 1 DAMPIT
Jl. Gunung Jati No. 33 ( (0341) 896410
DAMPIT-MALANG
TAHUN 2014 – 2015





ABSTRAKSI
               
Proses pembuatan tape termasuk bioteknologi konvensional (sederhana). Bioteknologi adalah prinsip-prinsip dari ilmu dan teknologi untuk memproses materi melalui agen biologi agar dapat meningkatkan nilai tambah. Bisa dibilang, bioteknologi adalah pemanfaatan biologi untuk kesejahteraan umat manusia. Sedangkan, bioteknologi konvensional adalah bioteknologi yang menggunakan mikroorganisme sebagai alat untuk menghasilkan produk dan jasa, misalnya jamur dan bakteri yang menghasilkan enzim-enzim tertentu untuk melakukan metabolisme sehingga diperoleh produk yang diinginkan. Dalam proses pembuatan tape, mikroorganisme yang dimanfaatkan adalah Saccharomyces cereviceae (ragi tape) yang mengubah singkong menjadi tape.

            Proses pembuatan tape sangat mudah dan tidak banyak membutuhkan biaya sehingga masyarakat kecil bisa melakukannya dan menjual hasilnya untuk keperluan hidup sehari-hari. Secara tidak langsung, pemanfaatan bioteknologi konvensional tersebut dapat meningkatkan perekonomian rakyat.




KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan saya kekuatan sehingga laporan ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
           
Penyelesaian laporan ini merupakan bagian penting untuk memenuhi nilai dalam praktek pembuatan tape metode fermentasi yang diselenggarakan oleh SMP Negeri 1 Dampit. Dengan demikian setiap siswa telah mencapai kompetensi yang diharapkan sebagai siswa yang memiliki nilai-nilai akademik dan keimanan dalam kehidupan masyarakat.
           
Penyelesaian penulisan ini tentunya tidak lepas dari bantuan semua pihak. Untuk itu saya sampaikan ucapan terima kasih kepada:

1.      Drs. H. M. Ali Arifin M.Si, selaku kepala sekolah menengah pertama Negeri 1 Dampit, Kabupaten Malang.
2.      Made Erna Ribawati, S.pd, selaku guru pembimbing sekaligus guru IPA yang telah membimbing, mengarahkan, memberi dukungan, dan petunjuk kepada penulis.
3.      Drs. Ahmad Susanto, selaku wali kelas IX-I yang telah mendidik kami dengan baik.

Penulis menyadari dalam laporan ini tentu ada kekurangan yang ditemukan. Oleh karena itu, penulis tetap membutuhkan bimbingan, saran dan kritik guna peningkatan mutu siswa dalam membuat laporan ini.

Demikian rangkaian kata pengantar penulis, atas perhatian yang diberikan, penulis sampaikan terima kasih.

Dampit, 03 Maret 2015

Penulis


DAFTAR ISI

ABSTRAKSI.............................................................................................................................................................IKATA PENGANTAR...........................................................................................................................................II
DAFTAR ISI..........................................................................................................................................................III
BAB I “PENDAHULUAN”..................................................................................................................................1
BAB II “KAJIAN PUSTAKA”.............................................................................................................................2
BAB III “METODE PENELITIAN”..................................................................................................................3
BAB IV “HASIL DAN PEMBAHASAN”.........................................................................................................4
BAB V “PENUTUP”..............................................................................................................................................5
BAB VI “DAFTAR PUSTAKA”..........................................................................................................................6
BAB VII “LAMPIRAN”........................................................................................................................................7
 

BAB I
PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG
Pengolahan pangan dengan cara fermentasi merupakan jenis pengolahan pangan yang cukup tua. Di Indonesia sendiri, secara tradisional banyak yang melakukannya di tingkat rumah tangga. Masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi dengan proses fermentasi. Sehingga, sejak dulu Indonesia kaya akan produk-produk pangan hasil fermentasi, salah satunya tape. Ada yang menjadikan produk-produk tersebut sebagai sumber penghasilan, tapi juga tak jarang ada orang yang menjadikannya makanan pendamping di rumah.
Untuk itu, mengingat banyaknya manfaat yang bisa kita ambil dari proses fermentasi tape, sangat perlu bagi kita untuk memahami bagamaina proses pengolahannya. Tape bisa dibuat dari singkong atau beras ketan. Namun, pada makalah ini akan dibahas proses fermentasi tape singkong.

B.     TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

Tujuan penulisan laporan:
1.      Menjelaskan langkah-langkah pembuatan tape singkong.
2.      Mendeskripsikan pengertian dam penjelasan-penjelasan lain dari fermentasi makanan.
3.      Menjelaskan proses fermentasi pada tape singkong.
4.      Menjelaskan proses penyimpanan terhadap fermentasi tape singkong.
Beberapa manfaat yang dapat diambil oleh penulis dan pembaca adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui langkah-langkah pembuatan tape singkong.
2.      Mengetahui proses fermentasi pada tape singkong.
3.      Mengetahui pengaruh udara pada proses fermentasi tape singkong.
4.      Mengetahui penjelasan-penjelasan tentang bioteknologi dan fermentasi.

C.      RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah proses fermentasi makanan itu?
2.      Bagaimana proses fermentasi pada tape?
3.      Apa kegunaan ragi dalam proses pembuatan tape singkong?
4.      Ada berapa macam langkah-langkah dalam proses pembuatan tape singkong?

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
1.     Fermentasi
Fermentasi dibagi menjadi dua, yakni:
a.       Fermentasi Asam Laktat
Fermentasi asam laktat banyak dilakukan oleh fungi dan bakteri tertentu digunakan dalam industri susu untuk membuat keju dan yogurt. Aseton dan methanol merupakan beberapa produk samping fermentasi mikroba jenis lain yang penting secara komersil. Dalam fermentasi asam laktat, piruvat direduksi langsung oleh NADH untuk membentuk laktat sebagai produk limbahnya, tanpa melepaskan CO2.
Pada sel otot manusia, fermentasi asam laktat dilakukan apabila suplay oksigen di dalam tubuh kurang. Laktat yang terakumulasi sebagai produk limbah dapat menyebabkan otot letih dan nyeri, namun secara perlahan diangkut oleh darah ke hati untuk diubah kembali menjadi piruvat, sehingga otot menjadi rileks kembali.
b.       Fermentasi Alkohol
Pada beberapa mikroba peristiwa pembebasan energi terlaksana karena asam piruvat diubah menjadi asam asetat + CO2 selanjutnya asam asetat diabah menjadi alkohol.
Dalam fermentasi alkohol, satu molekul glukosa hanya dapat menghasilkan 2 molekul ATP, bandingkan dengan respirasi aerob, satu molekul glukosa mampu menghasilkan 38 molekul ATP.
2.      Khamir atau Saccharomyces cereviceae
Organisme yang disebut khamir tersebut termasuk subdivisi thallopyta dan digolongkan dalam tiga famili yaitu Sacharomyces cereviceae, Sporabolomy cereviceae, Cryptocceae. Ciri khas organisme ini adalah reproduksinya yang vegetative yang disebut Budding atau penyembulan. Sifat-sifat umum: bersel satu bentuk coccus atau rod, khamir mesofilik yaitu yang tahan terhadap suhu 30-350C, anaerobik, tidak berspolurasi, tidak berflagella, dan tahan terhadap asam pada pH 4-5.




BAB III
METODE PENELITIAN
A.     WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN
Proses pembuatan tape dilaksanakan di kelas IX-I SMP NEGERI 1 DAMPIT pada hari Selasa, 24 Februari 2015, pukul 08.00-08.34. Singkong yang sudah melalui proses peragian didiamkan di ruang guru selama sehari semalam. Lalu keesokan harinya pada pukul 11.00 tape dibuka dan dinilai.

B.     ALAT DAN BAHAN PENELITIAN
·         ALAT:
Ø  Baskom plastik atau besek.
Ø  Kantong plastik bersih.
·         BAHAN:
Ø  Singkong yang sudah dikukus setengah matang 1 kg atau ketan hitam / putih yang sudah dikukus 1 kg.
Ø  Ragi yang sudah dihaluskan.
Ø  Daun pisang.

C.      PROSEDUR KERJA PENELITIAN
1.      Singkong dikupas dan dihilangkan kulit arinya, kemudian dipotong dengan ukuran yang sedang dan rapi. Lalu dicuci bersih, dijemur, dikukus setengah matang, dan didinginkan (dilakukan di rumah, sehingga di sekolah tinggal melakukan proses peragian).
2.      Siapkan baskom, diberi alas daun pisang posisi berdiri.
3.      Taburi sedikit ragi.
4.      Letakkan singkong yang masing-masing telah mendapat ragi secukupnya dengan rapi.
5.      Ditaburi lagi ragi secukupnya diatasnya.
6.      Bungkus dengan daun pisang dan dimasukkan ke kantong plastik yang masih bersih.
7.      Diletakkan di tempat gelap.






BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tape yang saya hasilkan waktu itu kurang manis, mungkin karena saya terlalu banyak menaruh gula. Karena, sebenarnya kita tidak memerlukan gula pada proses peragian, cukup ragi saja. Karena, rasa manis pada tape disebabkan oleh reaksi ragi saat proses fermentasi. Ragi mengeluarkan enzim yang dapat memecah karbohidrat pada singkong menjadi gula yang lebih sederhana. Oleh karena itu, tape seharusnya sudah berasa manis meskipun tanpa gula. Selain itu, faktor waktu mungkin juga memengaruhi. Memang, waktu itu fermentasi masih sehari tapi sudah dibuka dan dinilai lalu dibawa pulang. Namun, keesokan harinya teman-teman saya bilang bahwa pada sore harinya tape berasa manis, tidak masam seperti saat dinilai pada pagi hari. Itu tandanya, ragi belum bisa melakukan fermentasi dengan sempurna dalam waktu sesingkat itu (satu hari). Padahal rencananya tape akan dibuka dua hari kemudian.
Setelah itu, saya juga mencoba membuat tape sukun dengan cara-cara yang sama seperti pembuatan tape singkong. Tetapi, hasilnya tape sukun tersebut berasa masam. Hal itu dikarenakan terlalu banyak menaburi ragi pada sukun. Selain itu, tekstur sukun yang lebih lembek dari singkong lebih mudah diuraikan oleh ragi. Jadi, akan sangat fatal jika kita terlalu banyak memberi ragi.
Adapun reaksi yang terjadi dalam proses fermentasi tape:
C6H12O6 →  2C2H5OH + 2CO2 + 2 ATP (Energi yang dilepaskan:118 kJ per mol).
Jalur biokimia yang terjadi, sebenarnya bervariasi tergantung jenis gula yang terlibat, tetapi umumnya melibatkan jalur glikolisis, yang merupakan bagian dari tahap awal respirasi aerobik pada sebagian besar organisme. Jalur terakhir akan bervariasi tergantung produk akhir yang dihasilkan.
Bahan baku dari pembuatan tape adalah singkong. Tape singkong dibuat dengan proses fermentasi yang dibantu oleh ragi atau (bakteri Saccharomyces cerevisiae). Bakteri ini dapat merubah karbohidrat menjadi alkohol dan karbon dioksida.
Dalam fermentasi tape singkong terlibat beberapa mikroorganisme yang disebut dengan mikrobia perombak pati menjadi gula yang menjadikan tape pada awal fermentasi terasa manis. Yang menyebabkan tape singkong berubah menjadi alkohol karena adanya bakteri Acetobacter aceti (mengubah alcohol menjadi asam asetat). Tape mudah membusuk, tetapi jika disimpan di lemari es tape mampu bertahan hingga 2 minggu.


BAB V
PENUTUP
A.     KESIMPULAN
1.      Fermentasi tape termasuk dalam bioteknologi konvensional (tradisional) karena masih menggunakan cara-cara yang terbatas.
2.      Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal.
3.      Pada proses pembuatan tape, jamur ragi akan memakan glukosa yang ada di dalam singkong sebagai makanan untuk pertumbuhannya, sehingga singkong akan menjadi lunak, jamur tersebut akan merubah glukosa menjadi alkohol.
4.       Kegagalan dalam pembuatan tape biasanya dikarenakan enzim pada ragi Saccharomyces cereviceae tidak pecah apabila terdapat udara yang mengganggu proses pemecahan enzim tersebut.

B.     SARAN
1.      Jika memberi ragi jangan terlalu banyak atau terlalu sedikit, karena dapat membuat tape berasa masam, kurang manis, bahkan dapat membuat tape menjadi tidak sempurna (kurang matang).
2.      Kita harus menjaga agar tape tersebut tetap dalam keadaan kedap udara sehingga proses fermentasi tape sempurna.
3.      Kita juga harus memerhatikan waktu, jangan terlalu terburu-buru dalam membuka tape, karena jika kita membukanya dalam waktu yang singkat, bisa jadi tape tersebut belum sempurna (kurang matang).








BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

Sudibyo, Elok. 2008. Mari Belajar IPA untuk SMP/MTS Kelas IX. Surabaya: Pusat Perbukuan Departmen Pendidikan Nasional.
http://makalahpenelitian.blogspot.com/
http://ilmu-pertama.blogspot.com/2014/03/contoh-makalah-permbuatan-tape-singkong.html
Kusumawati, Rohana. 2013. BIOLOGI untuk SMA/MA Kelas XII. Klaten: Intan Pariwara.
http://kadarsihsinungraharjo.blogspot.com/2011/05/pengaruh-udara-terhadap-fermentasi-tape.html
http://fheeyraredzqiiy.wordpress.com/2009/12/08/laporan-praktikum-fermentasi/
http://makalahpenelitian.blogspot.com/2010/03/makalah-penelitian-tentang-fermentasi.html
http://amandita200812.blogspot.com/2014/08/laporan-biologi-fermentasi-tape-singkong.html
http://research.amikom.ac.id/index.php/STI/article/viewFile/8864/7338













BAB VII
LAMPIRAN
Proses peragian di kelas IX-I
IMG20150224081614.jpg









IMG20150224083152.jpgIMG20150224083406.jpgSelfie sejenak bersama teman-teman dan Bu Made Erna, guru IPA IX-I setelah proses peragian.